Kisah Pengidap Buta Warna Yang Bercita-cita Menjadi Fotografer

Sofyan Dika Fauzi lahir 20 November 1998, tepatnya 22 tahun lalu, dengan nasib sebagai pengidap kebutaaan warna ata buta warna. Lebih spesifiknya, ia didiagnosis oleh dokter menderita penyakit buta warna separuh atau bahasa Inggrisnya partial color blindness. Sejatinya kebutaan warna pada mata adalah bagian dari anomali genetika yang terwariskan oleh orangtua akibat perubahan abnormal pada kromosom X.

Untungnya, Fauzi tidak sampai rusak total menjadi monochrome, melainkan masih ada sebagian kecil warna yang mampu teridentifikasi oleh matanya. Fauzi kecil awalnya mengalami minder karena merasa bodoh dalam mengenali macam warna dibandingkan teman-teman sebayanya saat masih kanak-kanak. Keadaan tersebut ia jalani tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya sampai ia beranjak dewasa. Padahal, jauh dalam lubuk hatinya Sofyan bercita-cita menjadi fotografer profesional kelas atas.

Kisah Pengidap Buta Warna Yang Bercita-cita Menjadi Fotografer

Ia baru menyadari ada yang tidak beres pada penglihatannya ketika hendak mendaftarkan diri pada sekolah menengah kejuruan di kota nya. Sebagai pelengkap dokumen, Sofyan wajib menjalani serangkaian uji kesehatan secara utuh mulai dari ujung kaki hingga puncak kepala. Team medis menyatakan berdasarkan penilaian dokter spesialis bahwa Sofyan positif menderita gangguan penglihatan.

Betapa terkejutnya ia, kala mendapati kenyataan akan ketidakmampuan matanya mendeteksi ragam jenis warna. Seketika hatinya hancur berkeping-keping, karena ia sadar betul, seorang fotografer dituntut untuk mampu berkreasi dengan permainan warna. Sofyan tidak dapat membayangkan jalan menuju masa depan selain menjadi fotografer, sehingga begitu pahit ia menjalani hidup setelahnya.

Impian Si Buta Warna Menjadi Fotografer Sempat Ia Buang Jauh-Jauh

Atas dorongan dari sang kakak, Sofyan memaksakan diri untuk tetap melanjutkan lamaran pendidikan di sebuah SMK swasta. Kakaknya menyarankan ia untuk fokus pada jurusan ahli mesin, sebab katanya masa depan teknisi permesinan terbilang cerah. Siapa tahu bisa keterima kerja di perusahaan multinasonal seperti Astra Internasional, atau semacamnya. Kebetulan kali ini, SMK swasta tempatnya mendaftar tidak mewajibkan calon siswa untuk tes kesehatan sehingga ia lolos pendaftaran.

Impian Si Buta Warna Menjadi Fotografer Sempat Ia Buang Jauh-Jauh

3 tahun berlalu, Sofyan sama sekali tawar hati mempelajari ilmu mengutak atik mesin dan kawan-kawan. Setelah kelulusan dari SMK pun, ia lagi-lagi harus menerima kenyataan perih mengenai penolakannya sebagai mahasiswa terhadap sejumlah universitas. Dalam keputus asaan mendalam, mendadak Sofyan teringat akan impian lama menjadi fotografer yang dulu sempat ia buang jauh-jauh.

Terlanjur menyelesaikan pendidikan SMK, Sofyan tetap berusaha melamar di perguruan tinggi sekenanya. Ia mengakui kala itu tidak begitu memedulikan akan masuk jurusan apa, yang penting bisa dapat gelar sarjana. Tidak ingin penyesalan seumur hidup menghantuinya, Sofyan mulai menekuni ilmu fotografi jalanan di sela-sela waktu senggang mata pelajaran kampus.

Si Buta Warna sangat senang dengan jenis foto fenomena jalanan, kaum marjinal bersandingan dengan kaum urban dalam satu wilayah yang kontras. Bahkan ia menciptakan aliran versinya sendiri, di mana Sofyan menggabungkan unsur street photography ke dalam konsep sesi foto pranikah alias pre-wedding.

Perjalanan Panjang Menjadi Pro Fotografer

Perjalanan Panjang Menjadi Pro Fotografer

Sofyan sadar betul, kondisinya tidak memungkinkan untuk mengolah warna pada hasil jepretan kameranya dengan maksimal. Awalnya ia sangat kesulitan memadukan beragam jenis warna supaya foto tangkapannya bisa terlihat indah dan bernilai seni tinggi. Rasa minder muncul kembali sehingga ketidakpercayaannya menguat dalam dirinya yang memang sudah menyedihkan dari sananya.

Sekian tahun lamanya Sofyan menyembunyikan semua hasil foto yang terabadikan melalui kepiawaiannya menjepret kamera. Sampai suatu ketika, seorang teman kampusnya tidak sengaja membuka album berisi kumpulan foto-foto yang selama ini Sofyan hasilkan. Betapa terkejutnya Sofyan, reaksi temannya tersebut sangat terkesima jauh melebihi ekspetasi. Berkat kejadian itu, perlahan-lahan rasa percaya diri mulai pulih dalam hati kecil Sofyan si calon fotografer terkenal.

Perjalanan Panjang Si Buta Warna Menjadi Pro Fotografer

Sesungguhnya perjalanan Sofyan masih jauh menuju puncak kesuksesan sebagai pro fotografer. Kecanggihan ilmu teknologi yang semakin maju sangat membantu kaum disabilitas seperti Sofyan. Ia selalu mengandalkan aplikasi pengolah gambar bernama Preset Photo dalam membantunya bermain warna.

Sementara itu, dirinya pun konsisten dan tekun memperdalam ilmu fotografi melalui pagelaran galeri para master fotografer di dalam negeri maupun mancanegara. Oleh sebab itu, wawasannya seputar dunia pemotretan semakin luas dan kaya akan cita rasa seni yang mahal. Tidak ada beban sedikitpun menjalani hidup, karena ia sungguh mencintai profesinya ini walaupun belum menghasilkan dengan layak. Baginya, ketika seseorang bersyukur maka Tuhan akan menghadiahinya hati penuh kebahagiaan dan damai sejahtera.